Manajemen konflik, mengapa pemimpin harus mengetahuinya?

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpinunggul.com )

Konflik selalu timbul di tempat kerja, dan itu tidak bisa dihindarkan. Namun pemimpin harus mengelolanya secara luwes agar irama kerja sehari-hari tidak terganggu.

Sebagai pemimpin ada berbagai strategi manajemen konflik, yaitu:

Teknik 1: Ajak orang-orang yang sedang konflik pada tujuan yang lebih tinggi. Contoh, bagian anda terlibat konflik dalam menentukan kuota penjualan. Bagian keuangan menuntut penjualan setinggi-tingginya, sedangkan bagian anda menuntut dukungan biaya promosi besar-besaran. Begitu orang-orang itu kita ajak bicara pada tataran corporate, untuk tujuan yang lebih besar, mereka akan cenderung untuk berpikir lebih jernih.

Teknik 2: Memperluas sumber daya yang ada. Konflik bisa terjadi karena sumber daya yang langka yang dibutuhkan banyak orang. Contoh, hanya ada satu saluran telpon untuk dua bagian. Ketika mereka akan menggunakannya, mereka saling berebut. Cara manajemen konfliknya? Ya, tambah saja pesawat telponnya. Ini adalah contoh yang sangat menggampangkan, namun saya harapkan anda menangkap gagasannya.

Teknik 3: Penghindaran. Ini yang sering dilakukan oleh orang pada umumnya. Daripada ribut dan konflik terus dengan tetangganya, orang itu kemudian menghindar dan berusaha untuk tidak bertatapan dengan tetangganya itu. Ini memang bukan cara manajemen konflik yang efektif, namun kadang, dengan penghindaran ini, pihak yang ingin konflik akan berkurang ‘semangat’ untuk konfliknya.

Teknik 4: Mencari titik temu. Ketika anda sebagai pemimpin dan menemui orang yang konflik, anda dapat memakai teknik ini. Teknik ini berusaha mencari persamaan yang ada antara pihak yang terlibat konflik, sekaligus juga diperkecil perbedaan yang ada. Contoh ada konflik antara bagian pemasaran dan produksi. Daripada berdebat perbedaan fungsi kedua bagian itu, manajemen konflik dapat mencari persamaan kedua bagian itu. Misalnya, mereka sama-sama fungsi yang sangat penting dalam perusahaan, karena tanpa keduanya, perusahaan tidak akan bisa hidup…

Informasi Training

 

 

Best Practices of Cost Reduction and Cost Control

Strategic Planning for Non Profit 

Pelatihan Pajak Penghasilan Pegawai 

How to Read and Understand Financial Statements

Financial Statement Fraud: Prevention and Detection

Finance and Acconting for Non-Financial Managers

 

 

Pelatihan Why People Buy: Discover the Science of Buying 

Pelatihan Selling with Emotional Intelligence

Pelatihan Exceptional Service – Exceptional Profit

Pelatihan Marketing Metrics

Pelatihan the Secrets for Selling to the Subconscious Mind

Pelatihan Customer Service Skills

Pelatihan How to Deliver Exceptional Service

Pelatihan Professional Secretary Basic

Pelatihan Professional Secretary Advanced

 

 

Pelatihan Crisis Management

Pelatihan Managing Emotions Under Pressure

Pelatihan The Ultimate Supervisor 

Pelatihan Charismatic Leadership

Pelatihan The Science of Influence

Pelatihan Effective Decision Making

Pelatihan Appreciative Leadership

Pelatihan The First 90 Days

Pelatihan The Art of Leadership

Pelatihan Assertive Leadership Skills

Pelatihan Executive Coaching yang Efektif dan Sukses

Pelatihan How to Lead a Team

Pelatihan Transformational Leadership

Pelatihan Leadership Coaching

Pelatihan Making the Transition from Staff to Supervisor

 

Pelatihan Basic Leadership Skills

Advanced Leadership Skill

 

 

 

Pelatihan Difficult Conversation

Pelatihan Communication Skills

Pelatihan Body Language: How to Speed-Reading People

 

 

Pelatihan How to Communicate with Tact and Professionalism

 

 

 

 

Appreciative Inquiry for Change Management 

Strategic Human Resource Management 

Competency based Human Resource Management 

Pelatihan EQ Interview

Pelatihan How to Bargain & Negotiate 

Pelatihan Best Practices for Personnel/HR Assistant

How to deal with unacceptable behavior

Effective Succession Planning

Pelatihan Contract Drafting and Negotiation Skills

 

 

Managing Your Boss

Pelatihan Getting Things Done

Pelatihan Kiat dan Strategi Persiapan Pensiun

Pelatihan DNA of Success

Pelatihan How to Get Ideas

Pengendalian Kinerja Berbasis Malcolm Baldridge Criteria

Teknik 5: Kompromi. Ketika anda melakukan kompromi terhadap pihak yang terlibat konflik, mungkin masing-masing pihak tidak merasa puas terhadap keputusan itu. Namun manajemen konflik ini efektif jika topik/barang yang dikonflikkan bisa dibagi dua secara adil.

Teknik 6: Pakai Power. Ini adalah cara paling kuno untuk manajemen konflik. Ketika orang yang konflik tidak mau menyudahi konfliknya, sebagai pemimpin anda gunakan kekuasaan anda untuk menyudahi konflik itu. Walau mereka tidak puas, namun karena mereka adalah bawahan anda, mau tidak mau mereka harus patuh kepada anda.

Teknik 7: Mengubah sifat-sifat orang yang konflik. Mengubah sifat orang sangatlah sukar. Namun, ini adalah manajemen konflik yang efektif untuk jangka panjang. Contoh, di kantor anda dijumpai karyawan yang sering bertengkar dengan karyawan lainnya. Sebagai pemimpinnya, anda ajak pelan-pelan karyawan itu untuk mengubah perilakunya. Dengan sabar anda bimbing karyawan itu, dan akhirnya, ia mampu menjadi karyawan yang baik. Ketika karyawan itu sudah berubah sikapnya, konflik yang sering terjadi di bagian anda akan sangat berkurang.

Teknik 8: Ubah strukturnya. Agar bagian promosi dan bagian produksi tidak saling menyalahkan, ubahlah strukturnya. Contoh, bagian pemasaran mengeluhkan betapa sulitnya mereka menjual karena produknya desainnya jelek, dan kualitasnya meragukan. Keluhan itu ditanggapi oleh bagian produksi dengan cara mereka membuat produk begitu karena memang tidak ada masukan dari bagian pemasaran. Sedang produk yang buruk, mereka mengeluh karena terjadi pemotongan anggaran produksi besar-besaran dari bagian keuangan. Agar mereka tidak saling konflik, gabung saja dua bagian itu dibawah satu departemen. Sekali lagi contoh manajemen konflik yang saya tulis ini hanya untuk menggampangkan, dan bukannya ‘resep’ yang harus diikuti secara membabi buta.

Teknik 9: Ciptakan musuh bersama. Agar mereka tidak usreg saling konflik, ciptakan saja musuh bersama. Musuh ini dapat berupa pesaing agresif yang harus dihadapi dengan bersatu, dan bukannya terpecah belah seperti sekarang ini. Musuh ‘ciptaan’ dapat pula berupa ‘kunjungan’ pimpinan puncak ke bagian itu, yang ‘terpaksa’ mereka harus bersatu padu untuk bersama-sama ‘menyambut’ pimpinan itu.

Bagaimana pembaca, cukup membantu uraian tadi?

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...


Perhatian: Silakan copy artikel-artikel dalam web ini. Yang kami inginkan hanyalah anda memberi credit pada website ini dengan menyebutkan asal artikel dan penulisnya...