Sumber Daya Manusia dan Strategi Menghadapi Perubahan

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpinunggul.com )

Tahun baru barusan berlenggang. Ketika aku menghitung umurku, masya Allah sudah 46 tahun (persisnya 45 lebih 1 bulan karena aku kelahiran desember). Begitu banyak asam garam yang aku kenyam (yang rasanya asin dan kecut itu). Ketika aku menengok ke sekitarku, luar biasa banyaknya perubahan yang ada.

Dulu ketika aku ke USPS (PT Pos-nya Amerika) tahun 1997, aku kagum menyaksikan satpam memakai hp (walau bentuknya sangat besar). Sekarang, kedua anakku bawa hp semua. Satpam di komplekku, juga menenteng hp. Ketika aku bertandang ke desa-desa, anak-anak muda di sana bergaya pakai hp.

Jika engkau ke desa, sulit sekali engkau jumpai desa yang tenang, adem, asri, dan penuh kedamaian. Yang ada adalah desa yang penuh dengan antena tv, poster-poster berbagai merek rokok dan minuman, termasuk minuman agar jadi orang kuat. Bahkan jika lebaran, niscaya di tiap perempatan jalan penuh dengan kertas hasil pesta mercon.

Ketika aku tengok ke lingkungan kantorku, wah sudah begitu dahsyat perubahannya. Jika dulu bekerja agar setia, loyal, sekarang berubah total. Mereka inginnya mandiri, menentukan nasib sendiri. Jika perlu, keluar, dan buat apa nunggu pensiun. Pensiun yang kadang hanya menyisakan gundah gulana dan nestapa.

Jika dulu seorang bawahan begitu takut kepada atasannya, sekarang mereka malah berani. Mereka petakilan (seperti jatilan), dan kurang sopan santunnya. Jika dulu mengkritik atasan adalah tabu, sekarang katanya biasa. Ini bukan jaman penjajahan, ini jaman reformasi (sering diplesetkan menjadi repot nasi...).

Inilah tantangan yang dihadapi manajemen sumber daya manusia. Perusahaan menghadapi perubahan yang tak kalah dahsyatnya. Pesaing yang makin tidak tahu etika, makin mengancam produk-produk kita.

Namun ada persoalan yang menghadang. Sumber daya manusia kita sering tidak siap menghadapi perubahan itu. Mereka masih bekerja seperti biasa, sama seperti yang dilakukan puluhan atau belasan tahu yang lalu.

Informasi Training

 

 

Best Practices of Cost Reduction and Cost Control

Strategic Planning for Non Profit 

Pelatihan Pajak Penghasilan Pegawai 

How to Read and Understand Financial Statements

Financial Statement Fraud: Prevention and Detection

Finance and Acconting for Non-Financial Managers

 

 

Pelatihan Why People Buy: Discover the Science of Buying 

Pelatihan Selling with Emotional Intelligence

Pelatihan Exceptional Service – Exceptional Profit

Pelatihan Marketing Metrics

Pelatihan the Secrets for Selling to the Subconscious Mind

Pelatihan Customer Service Skills

Pelatihan How to Deliver Exceptional Service

Pelatihan Professional Secretary Basic

Pelatihan Professional Secretary Advanced

 

 

Pelatihan Crisis Management

Pelatihan Managing Emotions Under Pressure

Pelatihan The Ultimate Supervisor 

Pelatihan Charismatic Leadership

Pelatihan The Science of Influence

Pelatihan Effective Decision Making

Pelatihan Appreciative Leadership

Pelatihan The First 90 Days

Pelatihan The Art of Leadership

Pelatihan Assertive Leadership Skills

Pelatihan Executive Coaching yang Efektif dan Sukses

Pelatihan How to Lead a Team

Pelatihan Transformational Leadership

Pelatihan Leadership Coaching

Pelatihan Making the Transition from Staff to Supervisor

 

Pelatihan Basic Leadership Skills

Advanced Leadership Skill

 

 

 

Pelatihan Difficult Conversation

Pelatihan Communication Skills

Pelatihan Body Language: How to Speed-Reading People

 

 

Pelatihan How to Communicate with Tact and Professionalism

 

 

 

 

Appreciative Inquiry for Change Management 

Strategic Human Resource Management 

Competency based Human Resource Management 

Pelatihan EQ Interview

Pelatihan How to Bargain & Negotiate 

Pelatihan Best Practices for Personnel/HR Assistant

How to deal with unacceptable behavior

Effective Succession Planning

Pelatihan Contract Drafting and Negotiation Skills

 

 

Managing Your Boss

Pelatihan Getting Things Done

Pelatihan Kiat dan Strategi Persiapan Pensiun

Pelatihan DNA of Success

Pelatihan How to Get Ideas

Pengendalian Kinerja Berbasis Malcolm Baldridge Criteria

Semestinya mereka harus belajar terus. Semestinya mereka harus beradaptasi. Semestinya mereka harus mampu memanfaatkan perubahan itu untuk kepentingan perusahaan. Namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Mereka bahkan membenci perubahan.

Coba kita lihat tanaman. Kondisi tanaman hanya ada dua, tumbuh atau mati. Tidak ada namanya tanaman yang diam. Jika tidak tumbuh, ya mati. Itu hukum alam. Kita (termasuk perusahaan) juga harus tunduk dengan hukum alam itu. Sudah tidak terhitung banyaknya usaha atau perusahaan yang gulung tikar karena stagnan terus.

Keadaan ini harus selalu kita sadarkan kepada para karyawan. Biasanya inisiatif perubahan berasal dari pimpinan puncak perusahaan. Sekarang cobalah kita ajak mereka untuk mengusulkan perubahan. Caranya bisa dengan pertemuan-pertemuan yang membahas fenomena perubahan dan ancamannya terhadap perusahaan. Di kesempatan itu pula bisa dibahas bagaimana kita bisa meraih peluang yang tercipta karena perubahan itu.

Kemudian, kita kumpulkan sekelompok gagasan karyawan. Biasanya hanya terkristal pada sekelompok gagasan saja. Gagasan-gagasan itu kemudian kita rumuskan, dan kemudian kita kembalikan kepada mereka untuk melaksanakannya. Tentu masih banyak lagi strategi mengkomunikasikan perubahan ini...

Bagi bagian sumber daya manusia (SDM), ketika akan merekrut, utamakan ukuran perekrutannya harus pada kemampuan calon karyawan untuk memiliki adaptasi yang tinggi. Mereka harus fleksibel, pola pikiran mereka jangan terlalu rijid. Ketika mereka menyusun standar penilaian prestasi kerja, upayakan untuk memberikan penekanan pada fleksibilitas dan menghargai perbedaan.

Riset membuktikan bahwa dengan karyawan yang beragam, ternyata kelompok yang beragam ini mampu mengungguli kelompok yang terdiri dari latar belakang yang relatif homogen.

Dorong pula agar perusahaan memberikan penghargaan yang sangat memadai terhadap upaya-upaya yang inovatif dari karyawan. Ketika ada karyawan yang menantang status quo, hargailah mereka. Pupuk semangat mereka. Merekalah sesungguhnya orang-orang yang tidak terlelap dalam belenggu status quo. Status quo ini memang sangat melenakan, walaupun ada ketidaknyamanan di sana. Contoh, kita tahu bahwa gaji yang kita terima jelas tidak cukup untuk hidup nyaman. Kita sering berhutang karena gaji kecil. Namun jarang kita keluar dari stauts quo ini dengan cara cari kerja di tempat lain. Kita sering menghibur diri dengan ungkapan, "yah lumayan daripada tidak ada pendapatan."

Itu pula yang juga bergema di hati karyawan. Ungkapan "Gini-gini saja ya nggak apa-apa," sebaiknya kita ganti dengan ungkapan "Berubah atau mati", sebab tidak ada yang namanya diam dan hidup...

Salam perubahan...

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...


Perhatian: Silakan copy artikel-artikel dalam web ini. Yang kami inginkan hanyalah anda memberi credit pada website ini dengan menyebutkan asal artikel dan penulisnya...