Bab 7 - Spirituality (bag 1): Transformasi Spiritual

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpinunggul.com )

Jika ada satu hal yang paling diinginkan oleh lelaki itu adalah membalikkan waktu. Ya, membalikkan waktu. Jelas ini tidak mungkin. Keputusan yang ia lakukan secara gegabah tiga bulan lalu telah membuahkan hasil yang sangat pahit. “Andaikata waktu itu aku lebih hati-hati sedikit, ah, tidaklah aku begitu menderita seperti ini,” keluhnya.

Gagal investasi

Ya, ia baru saja gagal di sebuah usaha investasi, ah bukan investasi, tapi investasi bohong-bohongan. Dengan janji mendapat profit atau fee sebesar 6 persen per bulan, ia telah terbius untuk menaruh dana di usaha itu. Logikanya, nalarnya, daya analitisnya, telah pasrah kepada api keserakahan ingin kaya secara cepat. “Bagaimana bisa aku yang punya gelar MM keuangan ternyata begitu bodoh dan pandirnya aku untuk invest di bisnis laknat itu,” berkali-kali ia menyalahkan dirinya. Ah, bukan bisnis laknat, bisnisnya baik, bisnis oli, tapi pelakunya yang laknat. Si keparat itu telah menghabiskan uang para investor.

Ia dulu terbuai untuk bisnis itu karena berdasar kalkulasi bisnisnya, bisnis itu tidak akan pernah kehabisan pasar. Semua mesin butuh oli, artinya, kebutuhan itu akan selalu tumbuh, dan peluang tidak akan pernah kering.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Bisnis itu ternyata berujung penipuan. Uang yang dengan susah payah ia kumpulkan, sekarang telah pergi. Yang tersisa hanyalah kegetiran, penyesalan, dan ah, ya hikmah. “Kalau aku hitung-hitung, aku masih agak beruntung, hanya tabunganku yang amblas. Beda dengan teman-temanku yang sekarang ini terpenjara dalam hutang-hutang yang begitu menggunung,” ujarnya sambil menghibur diri. Saat itulah ia sadar, ia hanyalah sekedar wayang dalam kehidupan di alam raya ini. “Jangankan harta yang aku cintai, nyawa yang hinggap di badanku ini pun dengan mudahnya terbang menuju Sang Pencipta bila dikehendaki oleh-Nya,” Masih ia mencoba menghibur diri.

Kitab Suci memanggilnya

Kitab suci yang selama ini bersahabat dengan debu ia buka lagi. Ia mencoba untuk mencari butiran-butiran cahaya yang dapat menerangi nasibnya yang gelap. Makin ia mendalami Buku Suci itu, makin ia tersedot dan tenggelam di dalamnya. Seolah kitab itu berkata, “Ke mana saja engkau ini wahai sahabatku. Aku memanggil-manggilmu setiap saat melalui helaan nafasmu, melalui awan anganmu, dan melalui deburan nafsumu, namun engkau tidak mendengarku. Mari, peluk aku, reguk aku, dan jangan engkau pernah terpisah dariku, niscaya engkau akan menemukan butiran-butiran cahaya yang akan menuntun langkah-langkahmu di masa depan.”

Benar saja, ia jatuh tersungkur dan berdoa kepada Sang Pencipta. Ia merasa, amal ibadah yang selama ini ia lakukan banyak dikotori oleh nafsu-nafsu badaniah. Doa-doanya pun penuh dengan derum angkara murka. Hati dan jiwanya telah kembali kepada Sumber asal kehidupan itu sendiri. Ia bagaikan anak nakal yang kembali ke dekapan ibunya yang selalu mengasihinya, tidak peduli pada seberapa nakalnya ia.

Informasi Training

 

 

Best Practices of Cost Reduction and Cost Control

Strategic Planning for Non Profit 

Pelatihan Pajak Penghasilan Pegawai 

How to Read and Understand Financial Statements

Financial Statement Fraud: Prevention and Detection

Finance and Acconting for Non-Financial Managers

 

 

Pelatihan Why People Buy: Discover the Science of Buying 

Pelatihan Selling with Emotional Intelligence

Pelatihan Exceptional Service – Exceptional Profit

Pelatihan Marketing Metrics

Pelatihan the Secrets for Selling to the Subconscious Mind

Pelatihan Customer Service Skills

Pelatihan How to Deliver Exceptional Service

Pelatihan Professional Secretary Basic

Pelatihan Professional Secretary Advanced

 

 

Pelatihan Crisis Management

Pelatihan Managing Emotions Under Pressure

Pelatihan The Ultimate Supervisor 

Pelatihan Charismatic Leadership

Pelatihan The Science of Influence

Pelatihan Effective Decision Making

Pelatihan Appreciative Leadership

Pelatihan The First 90 Days

Pelatihan The Art of Leadership

Pelatihan Assertive Leadership Skills

Pelatihan Executive Coaching yang Efektif dan Sukses

Pelatihan How to Lead a Team

Pelatihan Transformational Leadership

Pelatihan Leadership Coaching

Pelatihan Making the Transition from Staff to Supervisor

 

Pelatihan Basic Leadership Skills

Advanced Leadership Skill

 

 

 

Pelatihan Difficult Conversation

Pelatihan Communication Skills

Pelatihan Body Language: How to Speed-Reading People

 

 

Pelatihan How to Communicate with Tact and Professionalism

 

 

 

 

Appreciative Inquiry for Change Management 

Strategic Human Resource Management 

Competency based Human Resource Management 

Pelatihan EQ Interview

Pelatihan How to Bargain & Negotiate 

Pelatihan Best Practices for Personnel/HR Assistant

How to deal with unacceptable behavior

Effective Succession Planning

Pelatihan Contract Drafting and Negotiation Skills

 

 

Managing Your Boss

Pelatihan Getting Things Done

Pelatihan Kiat dan Strategi Persiapan Pensiun

Pelatihan DNA of Success

Pelatihan How to Get Ideas

Pengendalian Kinerja Berbasis Malcolm Baldridge Criteria

Memungut ceceran nikmat

Tempat kerjanya yang selama ini ia terlantarkan, sekarang begitu ia perhatikan. Ia mencoba mengumpulkan ceceran nikmat yang selama ini terlindas oleh keserakahan. Ia sekarang banyak bersyukur. Ia bersyukur masih diberi kehidupan sehingga bisa setiap saat berdoa. Ia syukuri betapa anaknya sehat-sehat saja, betapa istrinya masih setia menemaninya. Ia sekarang bisa menikmati senandung burung-burung di pagi hari, desahan alam ketika hujan, dan merahnya senja ketika dewi malam menyelimuti siang.

Sekarang ini, masjid di kantor adalah pelabuhan hatinya yang amat ia dambakan. Bersama dengan rekannya sesama korban penipuan itu, mereka dengan penuh khusuk memanjatkan doa dan puji-pujian kepada Sang Pencipta. Ketika ia menghadiri rapat-rapat, ia selalu saja mengaitkan aktivitas rapat itu sebagai upaya pendekatan diri kepada Tuhan. Ia begitu muak melihat kemunafikan yang menjerat lingkungan kerjanya. Ringkasnya, musibah itu telah mengubahnya menjadi manusia baru. Musibah itu seperti obat yang begitu pahit yang terpaksa harus ia telan, namun begitu rasa pahit itu telah pergi, bergantilah rasa manis menyebar ke sekujur badannya dan menyembuhkan sakitnya…


Transformasi spiritual terjadi jika ada peristiwa besar dalam kehidupan manusia

Menurut penelitian para ahli, transformasi spiritual terjadi ketika ada peristiwa besar yang menyangkut seseorang. Peristiwa itu bisa berujud perceraian, bencana alam, masuk penjara, gagal bisnis, sakit yang parah, mati suri, berdiam diri cukup lama, atau berada di alam.

Ketika orang tertransformasi secara spiritual, dia akan mencoba untuk mengintegrasikan hal itu dalam kehidupan sehari-harinya. Contoh, teman saya adalah seorang pemburu. Ketika di hutan, ia menjumpai seekor kera besar. Kera itu kera betina yang sedang menggendong anaknya. Dengan tanpa peri “kekeraan” ia menembak induk kera itu. Ketika ia mendekati binatang yang sedang sekarat itu, induk kera itu mengulurkan anaknya yang masih kecil itu kepada sang pemburu. Wajah kera yang kesakitan, air mata yang membayang di wajah induk kera itu serta uluran tangannya untuk menyerahkan anaknya ternyata mampu membuat pemburu itu tersadar.

Ia sering teringat betapa nelangsa dan memelasnya wajah induk kera itu. Air mata yang membayang itu, tangan kera yang berlumuran darah itu, ah, berkali-kali ia menghela nafas, “Aku seorang pembunuh, apa salah kera itu?” Ia kemudian berjanji untuk memelihara anak kera itu sebaik-baiknya karena ia merasa telah mendapat “amanat” yang harus ia laksanakan. Ia mengalami transformasi spiritual. Ia menyadari, antara dirinya dan kera itu ternyata merupakan kerabat dekat, sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.

Dari tadinya seorang pemburu yang garang, ia tertransformasi menjadi pecinta binatang. Di mana saja ia menjumpai binatang yang kelaparan, kesakitan, ia akan bertindak untuk menolong. Tidak itu saja, rasa kasih sayang yang bersemi di hatinya ternyata juga merembes di kehidupan sehari-harinya. Ia menjadi orang yang penuh kasih dan manis budi.

Ketika bekerja, orang yang sudah tercerahkan ini pun ingin dapat mengintegrasikan dunia kerjanya dengan semangat spiritual yang baru saja ia dapatkan. Jika tadinya ia seorang yang menganggap karyawan hanya sebagai alat produksi yang dengan mudahnya digantikan, sekarang ia melihat karyawan adalah sebagai human being yang punya rasa, punya cita-cita dan punya kehendak, yang perlu juga didengarkan oleh pemimpin.

Bagian 2: Tiga tahapan integrasi spiritual

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...


Perhatian: Silakan copy artikel-artikel dalam web ini. Yang kami inginkan hanyalah anda memberi credit pada website ini dengan menyebutkan asal artikel dan penulisnya...