Mereka Menolak Perubahan Organisasi, Terus Bagaimana?

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpinunggul.com )

“Begini ya mas, apa yang tadi disarankan bahwa kita harus berubah, saya setuju. Tapi mbok jangan itu dulu yang kita ubah. Mari kita tingkatkan saja kualitas kita. Saya kok yakin kalau kualitas kita meningkat, perusahaan ini akan sehat.” Begitu komentar seorang manajer ketika mereka sedang menerima ceramah tentang "change' yang agak radikal.

Lihat, sekilas alasan manajer itu masuk akal bukan? Meningkatkan kualitas, siapa yang tidak sepakat. Siapa yang bisa membantah gagasan itu. Tapi isu meningkatkan kualitas ini sudah belasan tahun lalu diungkap, dan nyatanya, kualitas perusahaan itu biasa-biasa saja.

Usul peningkatan kualitas tadi ternyata juga didukung oleh banyak orang. Si penyaji hanya bisa mengambil nafas dalam-dalam seraya berpikir, “Apa sebenarnya yang hinggap di pikiran mereka? Mengapa mereka langsung menolak gagasan perubahan, padahal mereka belum pernah sekali pun mengalami perubahan yang kita canangkan ini?”

Inilah masalah yang sering menghantui gagasan perubahan. Karyawan, manajer, GM, menolak secara halus perubahan itu. Kalimat penolakan dicanggih-canggihkan memakai bahasa MBA yang tidak memudengkan orang. Karena yang mengemukakan penolakan adalah orang-orang pintar, maka memang sulit untuk membantah mereka.

Marilah kita sedikit bedah mengapa mereka menolak perubahan.

Informasi Training

 

 

Best Practices of Cost Reduction and Cost Control

Strategic Planning for Non Profit 

Pelatihan Pajak Penghasilan Pegawai 

How to Read and Understand Financial Statements

Financial Statement Fraud: Prevention and Detection

Finance and Acconting for Non-Financial Managers

 

 

Pelatihan Why People Buy: Discover the Science of Buying 

Pelatihan Selling with Emotional Intelligence

Pelatihan Exceptional Service – Exceptional Profit

Pelatihan Marketing Metrics

Pelatihan the Secrets for Selling to the Subconscious Mind

Pelatihan Customer Service Skills

Pelatihan How to Deliver Exceptional Service

Pelatihan Professional Secretary Basic

Pelatihan Professional Secretary Advanced

 

 

Pelatihan Crisis Management

Pelatihan Managing Emotions Under Pressure

Pelatihan The Ultimate Supervisor 

Pelatihan Charismatic Leadership

Pelatihan The Science of Influence

Pelatihan Effective Decision Making

Pelatihan Appreciative Leadership

Pelatihan The First 90 Days

Pelatihan The Art of Leadership

Pelatihan Assertive Leadership Skills

Pelatihan Executive Coaching yang Efektif dan Sukses

Pelatihan How to Lead a Team

Pelatihan Transformational Leadership

Pelatihan Leadership Coaching

Pelatihan Making the Transition from Staff to Supervisor

 

Pelatihan Basic Leadership Skills

Advanced Leadership Skill

 

 

 

Pelatihan Difficult Conversation

Pelatihan Communication Skills

Pelatihan Body Language: How to Speed-Reading People

 

 

Pelatihan How to Communicate with Tact and Professionalism

 

 

 

 

Appreciative Inquiry for Change Management 

Strategic Human Resource Management 

Competency based Human Resource Management 

Pelatihan EQ Interview

Pelatihan How to Bargain & Negotiate 

Pelatihan Best Practices for Personnel/HR Assistant

How to deal with unacceptable behavior

Effective Succession Planning

Pelatihan Contract Drafting and Negotiation Skills

 

 

Managing Your Boss

Pelatihan Getting Things Done

Pelatihan Kiat dan Strategi Persiapan Pensiun

Pelatihan DNA of Success

Pelatihan How to Get Ideas

Pengendalian Kinerja Berbasis Malcolm Baldridge Criteria

Menurut telusuran literatur, setidaknya ada 7 sebab mengapa orang menolak perubahan organisasi.

  1. Ketakutan terhadap ketidaktahuan. Mengapa kita takut hantu? Habis mereka suka “ngilang” sih. Ketika hadir mereka hanya “mak sliwer”, hanya selintasan dalam ujud pocong atau muka rata. Siapa yang tidak takut? Coba andaikata hantu itu hadir pas jam makan siang, kan kita bisa ajak wawancara. Kita bisa bertanya misalnya apa saja species hantu, terus kegiatannya apa ya hanya bergelantungan di pohon. Apa di sana ada selebritis yang hobi kawin cerai dan sebagainya. Kita takut karena kita tidak tahu. Bagi orang yang tahu, seperti pemburu hantu, hantu malah dijadikan alat cari uang. Mengapa? Karena mereka tahu ilmu pengetahuan “kehantuan.”
  2. Kehilangan kontrol. Enakkah memegang kontrol? Tergantung. Bagi sementara orang, punya kontrol sangatlah nyaman. Karena anda sebagai manajer TI, permintaan komputer selalu melalui anda. Jika anda setuju, komputer bisa dibeli, jika anda mengatakan tidak, komputer tak terbeli. Anda berkuasa, anda penting, anda dihormati. Siapa yang tidak suka akan hal itu? Namun begitu ada perubahan, pembelian komputer akan dilakukan oleh suatu komite atau panitia. Anda tidak lagi berkuasa. Tanpa terasa anda merasa diabaikan, anda dianggap tidak penting. Apa yang anda lakukan? Menolak gagasan perubahan itu bukan?
  3. Kehilangan “muka” alias malu. Perubahan yang dicanangkan itu ternyata karena kerja anda dianggap tidak becus. Contoh, anda diserahi tugas menjadi manajer pemasaran. Anda bertanggung jawab terhadap kinerja wilayah Jawa Tengah. Namun kinerja anda itu hasilnya buruk. Karena perusahaan ingin pendapatan tetap meningkat, maka dilakukan upaya-upaya baru. Walau upaya itu masuk akal, jauh di dalam sanubari anda, anda menyadari bahwa perubahan itu karena kinerja anda yang buruk. Anda merasa malu, anda “loss of face.” Apa yang anda lakukan? Tolak saja perubahan itu. Siapa yang rela menanggung malu? Seperti kata iklan kosmetik, “Muka kita cuma satu nih…”
  4. Kehilangan kompetensi. Jika anda dari “old generation” pasti mengalami hal ini. Saat itu mesin ketik adalah alat kerja utama. Mesin tik Remington menjadi andalan. Alat penghapus ketikan pasti sudah disamping mesin itu, ditambah dengan kertas karbon biru atau hitam jika kita ingin membuat beberapa copy. Teknologi berkembang pesat dan komputer dan internet menjadi alat sehari-hari. Ada pengumuman baru dari kantor pusat, “Mulai tanggal 2 Januari, data keuangan, SDM, operasi akan dijalankan lewat intranet.” Intranet adalah mirip internet namun hanya ada di internal perusahaan. Anda tentu menolak. Bagaimana tidak menolak? Wong, pakai mouse saja belum pernah kok disuruh pakai intranet, binatang apa itu? Saat itu, jika ada tidak meng-upgrade kompetensi anda, anda pasti menolak perubahan itu.
  5. Kebutuhan keamanan. Anda ingat betapa berduyun-duyunnya orang melamar sebagai pegawai negeri? Apakah gajinya besar? Anda tahu sendiri. Tapi mengapa mereka sangat ingin jadi PNS? Rasa aman. Ketika ada gagasan perubahan dan mengancam keamanan karyawan, pasti ditolak.
  6. Waktu yang tidak tepat. Anda lagi getol-getolnya melakukan TQM. Bulan lalu sudah benchmarking. Bulan lalunya lagi sudah intrapreneuring. Sekarang apa lagi? Mbok ya sabar dulu, ini dulu sukses baru “ngerjain” yang lain lagi. Kita inikan juga manusia to? Begitulah keluhan yang muncul ketika perubahan dilakukan pada waktu yang tidak pas.
  7. Mengubah kebiasaan. Apa yang anda pertama kali sabun ketika anda mandi? Bagian lengan, terus pundak, terus paha dan seterusnya bukan? Pernahkah anda berpikir, “hari ini saya akan menyabun punggung saya, terus kaki, dan setelah itu pundak saya” Tidak pernah bukan? Mengapa? Karena kita makhluk kebiasaan. Sukarkah mengubah kebiasaan? Menurut riset, agar terjadi kebiasaan baru yang permanen dibutuhkan waktu 21 hari. Ketika perubahan harus mengubah kebiasaan, cenderung akan ditolak.

Apa solusinya? Menurut riset, banyak inisiatif perubahan tidak memperhitungkan penolakan ini. Akibatnya, perubahan gagal. Jadi agar perubahan relatif mulus, ya atasi dulu sebab-sebab penolakan di atas. Jika perubahan mengakibatkan terancamnya keamanan, pastikan bahwa perubahan itu tidak mengancam keamanan itu. Artikel sederhana ini memang tidak bisa membahas semua hal untuk mengatasi penolakan itu. Jika ada waktu dan tenaga, dan …kemampuan, insya Allah akan dibahas dalam buku atau tulisan berseri lainnya…

 

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...


Perhatian: Silakan copy artikel-artikel dalam web ini. Yang kami inginkan hanyalah anda memberi credit pada website ini dengan menyebutkan asal artikel dan penulisnya...